Thu. Jan 15th, 2026
KEPERJAKAANKU DI AMBIL OLEH ISTRI BOSKU
KEPERJAKAANKU DI AMBIL OLEH ISTRI BOSKU

Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya : Klik Disini !

KEPERJAKAANKU DI AMBIL OLEH ISTRI BOSKU

KEPERJAKAANKU DI AMBIL OLEH ISTRI BOSKU

KEPERJAKAANKU DI AMBIL OLEH ISTRI BOSKU CERITA DEWASA – Saya bekerja di Semarang, ditengah lingkungan orang-orang Tionghoa yang kebanyakan perempuan. Aku berumur 35 tahun tapi belum menikah dan sudah punya pacar yang jauh tempatnya. Istri bossku itulah yang merenggut keperjakaanku. Suaminya berselingkuh dengan seorang perempuan marketing dari Jakarta.

Memang aku kalau melihat istri bossku, aku jadi kasihan. Walau sudah punya 3 anak tapi kulihat akhir-akhir ini makin tambah seksi terutama kedua buah dada yang membesar. Aku tahu dia ikut fitnes rutin dan body building di salah satu sanggar senam.

Mungkin untuk mengimbangi WIL suaminya yang memang sangat seksi dan suaranya kalau telepon, minta ampun, merdu sekali. Makanya bossku sampai klepek-klepek seperti burung tak berdaya. Bossku orang sangat kejam, selalu menang sendiri dan otoriter pada istrinya.

Tidak malu dia memarahi istrinya di depan karyawannya. Tapi anehnya aku cukup percaya. Itu terbukti ketika bossku suka cerita soal keluarganya, anak-anaknya juga. Aku yang paling dipercaya boleh masuk ke rumah, bahkan di ruang pribadinya. Wah, hebat sekali. Kapan pun aku punya kamar begini, tempat tidur yang mewah dan enak sekali.

Saya bekerja di kantor, di bagian ekspor dan komputer. Soal komputer aku paling pandai. Komputer inilah yang membuatku semakin dekat dan mendekati wanita paling cakep dan seksi di kantorku. Terus terang sekarang aku punya urusan dengan manajer keuangan, paling cantik dia di kantorku. Seksi? Bolehlah.

Tapi aku sangat ingin menikmati seks dengan Cik Sasa. Wuah, aku suka membayangkan menggumuli tubuhnya yang seksi. Apalagi kalau aku melihat dari belakang. Paling membuatku tidak tahan. Habis, Cik Sasa punya pantat yang aduhai sangat merangsangku.

Apalagi kalau dia memakai celana panjang. Wuah.. kejantananku ini tegang minta ampun sampai maksimal (15 cm dengan diameter 3,5 cm). Aku suka membayangkan melakukan senggama disitu dari belakang dengan menungging. Saya juga ingin menikmati seks dengan adik ipar istri bossku, Cik Nina.

Aku berenang menikmati tubuhnya yang sangat seksi. Adik ipar bossku ini lebih seksi segalanya dibandingkan Cik Sasa dan Ima (manager keuangan). Kalau ke kantor.. wah selalu berpakaian seksi dan ketat. Tubuhnya memang berbodi gitar, buah dada besar, ukuran 36 kali. Wah aku ngiler kalau dia membahasku dan bicara soal internet dan komputer.

Aroma tubuh dan polah tingkahnya sangat menantangku. Saya juga ingin menikmati tubuh Cik Nia. Cik Nia karyawan di bagian pemasaran. Aku baru sampai memegang-pegangan tangan saja dengan Cik Nia. Rambutnya sebahu, aku paling suka dengan kedua buah dadanya yang besar juga.

Dengan Ima, aku baru sampai memegang paha dan hasta bagian atas buah dada dan dia diam saja atau membalas manja kalau kami naik mobil. Dengan Cik Sasa, aku baru sampai pada tahap pegang-pegang tangan dan pinggang ketika aku mengukur pakaiannya yang seksi (padahal aku pengen memegang pinggang dan tubuhnya) tiga minggu lalu.

Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya : Klik Disini !
BERCINTA DENGAN CEWEK BLASTERAN

Cik Sasa adalah pekerja di kantorku. Tapi bak durian runtuh, aku malah bisa menikmati tubuh istri bossku yang tak pernah kuduga. Dengan kekasihku sekarang, aku belum pernah melakukan hubungan seks. Paling bercumbu sampai aku telanjang dan dia tinggal CD-nya saja. Kuharap ini kekasihku yang terakhir. Terus terang aku ingin menikahinya. Makanya aku tahan seksku sampai pernikahan nanti.

Dua bulan lalu, kira-kira jam 9 malam, aku ditelepon istri bossku untuk menemuinya di hotel Santika. Dari suaranya, pasti ada masalah dengan suaminya. Hampir jam 10 malam aku baru sampai di lobi hotel. Dari lobi, aku Cik Ling dan menyarankan aku lewat lift dari basement dan langsung masuk ke kamar.

Aku turun ke bawah (basement) dan dari sana aku dengan lift naik ke lantai 6. Aku memencet bel ruangan itu dan dibuka oleh Cik Ling sendiri yang memakai kaos dengan bukaan rendah dan celana pendek. Wah, aku terkesiap melihat bukaan dadanya yang makin montok sehingga membuatku berpikir yang bukan-bukan di sini.

Di kantor, kalau aku menghadapnya (Cik Ling juga direktur keuangan) aku seolah dibiarkan melihat bagian dadanya. Bukannya ditutup (mestinya bisa) dengan blasernya, tapi blaser diregakkan saja dan dibuka lagi seolah membiarkan kedua belahan dadanya untuk kunikmati.

Belahannya berwarna putih agak kecoklatan dengan leher panjang. Wah.. aku menelan ludahku sendiri. Aku dipersilahkannya masuk dan duduk.
“Dimana koh Edward(suaminya), Cik..” kataku.
“Ooo suamiku ke Jakarta,” katanya.
“Ada apa sih Cik kok malam-malam begini?” Tanyaku.

Cik Ling mengambil dua minuman coke dan mematikan TV kemudian duduk di kursi (dia menariknya ke arah tempat tidur) agak mengahadapku. Cik Ling menerahkan Coke padaku dan aku minum hampir setengahnya. Cik Ling mulai gelisah dan aku bertanya lagi, “Ada apa Cik?”. Dengan menahan tangis Cik Ling menceritakan WIL suami yang di Jakarta. Cik Ling memang sudah tahu perselingkungan suaminya itu.

Tadi sebelum ke Jakarta, Cik Ling pesan agar Ko Edward hati-hati. “Kurang apa sih aku ini,” katanya. “Aku istri baik-baik saja, memberikannya tiga anak.” Cik Ling menikah sangat muda dengan tiga anak. Anak yang bungsu sudah kelas 1 SD. “Aku juga ikut senam dan membuat tubuhku tambah seksi,” katanya sambil menangis. “Sejak suamiku punya WIL, aku membiarkannya merana dua tahun terakhir ini,” lanjutnya sambil menangis.

Aku mengerti mendengar itu semua, tidak tahu apa yang harus kukerjakan. Apalagi ketika dia tambah menangis keras. Kedua tangannya menutup wajahnya yang tertunduk. Wah, untung ruangannya kedap dan terkunci. Lalu kutarik kursiku dan duduk lebih dekat dengannya, di depannya.

“Cik,” kataku memecah kesunyian. “Cik Ling sabar ya? Pasti ini akibat Puber ke dua,” kataku. Aku memberanikan memegang pundaknya dan kepalanya. Cik Ling mendengarnya mendengar kataku seolah membenarkan. Ko Edward usianya 45 tahun, Cik Ling 37 tahun usianya. Jadi memikirkan puber kedua setelah membaca buku psikologi yang pernah kupelajari.

Cik Ling memandangiku sebentar dan kemudian meledak tangisnya dan ya ampun, dia merebahkan kepalanya di pahaku. Aduh, mati aku. Aku tidak bisa menahan sesuatu yang bergerak berputar di balik celanaku. Kuelus lagi kepalanya dan beberapa nasehat meluncur dari mulutku sementara pikiranku macam-macam. Apalagi aku bisa melihat bagian pungungnya (karena pakai kaos rendah).

“Kok gak pakai BH,” batinku. Kuraba kepala dan pundaknya, kulihat tangisnya mereda walaupun belum selesai benar. Karena aku tidak tahan dengan birahi di dadaku, aku menelusurikan saja ke arah punggung yang terbuka bagian atas. Aku saat itu sudah sangat sengaja melakukannya dengan takut-takut. Ya Tuhan, Cik Ling diam saja ketika aku melakukannya.

Kuelus leher belakang, kepala belakangnya dan kuberanikan mengangkat kepalanya dengan memegang kedua pipi dan pendengaran dari samping. “Cik Ling,” kataku sambil mata kami berpandangan. Kuambil sapu dan kuusap air mata di wajahnya. “Bibirnya bagus sekali,” pikirku.

Ini kali pertama saya melihatnya sedekat ini, apalagi dia adalah direktur keuanganku. Kami berpandangan dan ya ampun, dia memejamkan mata dan membuka sedikit mulut. Aku ingat kekasihku kalau kami mau bercumbu, dia pejamkan matanya dan pembukaannya sedikit.

Kasihan Cik Ling, aku pikir pastilah suaminya sudah lama sekali tidak menjamahnya, menyetubuhinya. Karena kesempatan itu datang, kuraih saja bibir Cik Ling. Kukecup beberapa kali sebelum akhirnya aku mengulum bibir dan Cik Ling membalasnya. Ya Tuhan, aku dapat durian runtuh malam ini.

Pikiranku sudah dipenuhi dengan birahi dan ingin menikmati tubuh Cik Ling di Hotel Santika malam ini. Ahh, lembut sekali, kami menikmatinya dan lidahnya, lidahku menari-nari. Kutelusuri mengulangi yang panjang dengan mulutku sambil memegangi genggaman, meremasnya. Ahh, Cik Ling kegirangan menyambut cumbuanku. Dia pasrah.

Apalagi ketika diterima mulai merambati pinggang dan menggapai kedua bukitnya, kuelus dari luar kaosnya yang tanpa BH itu. Aku menikmati sementara mulutku membaca dan menelusuri lagi memutari dada di atasnya. Cik Ling mendesah-desah dan mendesis kegirangan.

Lalu kami berdekapan, kutuntun Cik Ling ke arah tombol musik yang tersedia dan kuraih chanel yang tersdia di hotel. Kami berdekapan lama sambil berdiri mengikuti alat musik irama.
“Aku milikmu Jo, malam ini.” kata Cik Ling memecah kesunyian.

Aku dihubunginya dengan Jo, seperti yang biasa dia lakukan di kantor. Dia berkata begitu sambil melepas celanaku, bajuku dan semua yang melekat padaku. Aku telanjang di hadapannya. Didekapnya aku, diraba dan elusnya batang kejantananku yang sudah mengejang keras. Jantungku serasa lepas. Lalu kami bercumbuan lagi. Aku letaknya dan kucumbui Cik Ling dari belakang.

Mulutku membacakan dering, punggung, pipinya, telinga dan dilingkarkannya tangan Cik Ling di kepalaku, kulumat bibir. Tanganku meremas kedua bukitnya dengan lembut dan membuat gumpalan itu semakin menggumpal. Cik Ling menggeliatkan tubuhnya, melengkung ke depan. Ahh, pemandangan yang indah kulihat.

Kulepas kaos merahnya dan betapa indahnya kulihat buah dada Cik Ling, masih kencang dan cukup besar, puntingnya berwarna coklat sangat ranum dan membuat lebih terangsang untuk memetik kedua buah dada yang siap panen dan kunikmati dengan mulutku.

Kubiarkan Cik Ling menikmati sensasi-sensasi yang kustimulasikan pada tubuhnya. Cik Ling membiarkan aku meremasi lembut kedua buah payudara. Kulihat Cik Ling memejam dan menggeliat-geliat melengkung ke depan. Aku ingin menelanjanginya. Kuraih celana pendeknya dan kulorotkan ke bawah, Cik Ling melepas sendiri.

Aku sekarang melihat gundukan pink di balik celana dalamnya. Kuraba gundukan itu dan Cik Ling bertambah menikmati dengan desah dan geliatnya. Kustimulasi dengan kedua momen dan akhirnya diterima kumasukkan ke celana dalamnya, kulepaskan dan sekarang aku benar-benar melihat Cik Ling telanjang di dekapanku.

“Basah Cik,” kataku.
“Iya, aku sudah nggak tahan Jo. Aku sangat menikmati cumbuanmu sampai sekarang, dan aku ingin kau membuatku terpuaskan Jo. Ayo lakukanlah..” Pinta Cik Ling dengan manja aku.
“Tapi Cik.. aku..” aku ingin mengatakan bahwa aku belum pernah melakukannya pada wanita.

Gelora birahi di dadaku memuncak dan batang kejantananku sudah tidak diaktifkan lagi. Cik Ling kupeluk erat dan membiarkannya bersandar di dada kiriku. Ahh, manja sekali Cik Ling ini, pikirku. Kukecup pipinya, dahi. Kukecup pendengaran dan Cik Ling sangat menikmati sensasi gelora seks yang kulakukan padanya.

Kubalikkan tubuhnya lagi dan Cik Ling berhadapan denganku. Aku mencumbuinya lagi. Dibiarkannya mulutku menelurusi leher dan dada. Aku hampir tidak tahan menahan geliat tubuhnya. Apalagi ketika aku sampai di payudara. Ahh, aku sangat menikmati kedua buah dada.

Kuputar lembut dan membuat Cik Ling membusungkan dada sehingga aku semakin leluasa. Lenguhan, desahan dan geliatnya makin membuat birahiku meledak-ledak. Kupaguti bergantian kedua buah payudara. Kukulum kedua puntingnya bergantian dan membuat tubuh Cik Ling semakin menggeliat dan akhirnya aku tidak kuat lagi menahan tubuhnya, kubiarkan terjatuh di tempat tidur.

Kubiarkan Cik Ling semakin ke tengah tempat tidur, aku memandangi tubuhnya yang indah. Cik Ling membuat gerakan-gerakan yang menandakan letupan birahinya sehingga membuatku sangat terangsang. Apalagi ketika dibukanya kedua kakinya dengan terangkatnya pahanya. Betapa menggairahkannya. Kulihat gundukan hitam di puncak selangkangannya.

Malam ini, pastilah akan menjadi malam pertamaku menyetubuhi wanita dan Cik Ling lah yang akan membuatku tidak perjaka lagi. Ini tekadku malam ini. Aku ingin memberikan kesan dan sensasi yang mendalam tentang diriku. Kudekati tubuh Cik Ling dari samping. Tangannya menarikku. Kucumbui Cik Ling lagi.

Aku mencumbuinya dari atas ke bawah dengan tubuhku merambat di atasnya. Kunikmati kedua bukitnya dengan leluasa dan menggapai kedua kakinya menelusuri liang senggamanya, membuat Cik Ling menggeliat mendesah lagi. Kutelusuri mendalam akhirnya aku sampai di liang senggamanya. “Oh, wangi sekali,” pikirku.

Tapi belum sempat aku bertindak lebih lanjut, meraihnya di batang kejantananku dan dikulumnya. Aku mendesis kenikmatan. Disedotnya batang kejantananku hingga masuk penuh di mulut. Ohh, ini pertama kali mulut wanita mengulum batang kejantananku.

Betapa nikmatnya sampai aku hanya bisa berkata “Ooohh Cik.. ahh..” dan pinggulku tergoyang-goyang mengikuti sensasi yang Cik Ling berikan melalui batang kejantananku.
“Oooh Cik, aku nggak kuat, mau keluar Cik,” kataku.

Tapi tak ada sahutan. Yang ada hanya hisapan dan kuluman yang semakin membuat batang kejantananku terisi. Aku mencoba menahan diri dengan menikmati liang senggamanya dengan mulutku. Akhirnya aku tidak tahan dan kumuntahkan sperma hangatku penuh di dalam mulut Cik Ling. Aku mengerti.. inikah namanya orgasme? Kulihat Cik Ling sangat menikmati dengan apa yang baru saja terjadi.

“Terima kasih ya Cik,” kataku. Dia hanya tersenyum tipis dan memelukku. Kucumbui lagi Cik Ling dan aku sangat suka menikmati kedua buah dada dengan putingnya yang ranum. Hal ini membuat Cik Ling bergelinjang kenikmatan. Kalau mulutku memaguti dan menggulumi yang kiri, tangan kananku meremas lembut yang kanan, begitu pula sebaliknya. Aku seperti bayi yang menikmati ASI dari samping.

Kulihat gerakan kaki yang merangsangku. Lalu sambil mulutku mengulum buah dada, kujulurkan menggapai liang senggamanya. Cik Ling semakin menikmati permainanku ini. Kuelus liang senggama dan sekitarnya, membuat gerakan kaki membuka lebar, semakin lebar menantiku menyetubuhinya.

Kurasakan liang senggamanya yang semakin membasah dan akhirnya ketika kedua kakinya masih mengangkang, aku bergerak dan berada di antara kedua kakinya. Kupandangi liang senggamanya dan kunaikkan kaki kirinya, aku menciumi pahanya dengan lembut menukik ke bawah dan akhirnya aku mencumbui liang senggamanya.

Kepalaku diremas-remas dan ditekannya, kudengar geliat dan desahnya semakin menjadi-jadi. Kedua kakinya terbuka lebar di depanku. Saya sangat menikmati liang senggamanya. Ini kali pertama aku mencumbui liang senggama wanita. Aku mulai merasakan cairan dan membuatku semakin terangsang dan Cik Ling memintaku agar aku segera menyelesaikannya.

Ditaruhnya kedua kakinya di pundakku dan batang kejantananku yang sudah kembali menegangkan kutuntun memasuki liang senggamanya. Kumasukkan sedikit demi sedikit dan kuputarkan di seputar liang senggama Cik Ling yang membuatnya melenguh kenikmatan sejadi-jadinya.

Aku memasukkan lagi dan lebih dalam lagi dan akhirnya tertanam penuh di liang senggama Cik Ling. Kupegangi kedua tangannya, aku diam sejenak merasakan sensasi kenikmatan di sekeliling batang kejantananku, lalu kugoyangkan lembut sementara mulutku menikmati kedua puting susunya bergantian.

Aku terus menggoyang lembut di seputar dinding kemaluannya. Aku merasakan Cik Ling mau orgasme. Kupercepat goyanganku dan kudengar suara teriakan tertahan, tubuh Cik Ling mengejang dan menjepit batang kejantananku kuat-kuat. Seketika itu aku merasakan spermaku mau keluar lagi. Akhirnya aku menikmati saat akhir yang sangat menggairahkan. Cik Ling mencapai orgasme, juga aku. Aku merasakan sangat kenikmatan. Aku tidak bekerja lagi.

“Terima kasih ya Cik,” kataku. Kukatakan itu ketika aku mengecup kulit, dahi, dahi dan membaca juga dada yang meninggalkan warna kemerahan. Tangannya masih agak menggelepar di kanan kiri seperti pelepasan.
“Cik, ini kali pertama aku menyetubuhi wanita,” kataku melanjutkan. Cik Ling tersentak dan aku meyakinkannya.
“Cik Ling lah yang merenggut keperjakaanku malam ini,” kataku sambil mengecup dahi dan pipinya.

Aku dipeluknya erat lagi dan aku membalasnya. Malam itu aku tidur di hotel sampai pagi dengan kehangatan tubuh Cik Ling di pelukanku. Rasanya tubuh Cik Ling menjadi selimut hangat buatku. Pagi-pagi aku pulang ke rumah dan masuk kerja seperti biasanya meskipun aku merasa ngantuk.

Tapi aku minum obat booster agar tidak ngantuk dan terbukti cukup kuat menahan rasa kantukku. Apalagi juga dengan kedatangan Cik Ling. Senyumnya sungguh beda. Aku suka. Dan lagi-lagi aku sangat tertarik dengan kedua buah dada yang pagi itu tampak lebih mempesona buatku. Cik Ling sepertinya bangga.

Aku diteleponnya dari ruangannya dan berkata terima kasih dan senang karena dapat membuatku tidak tertarik lagi.
Gila! Pikirku. Pengalaman dengan Cik Ling membuat ketagihan menikmati tubuh gadis dan istri orang di kantorku. Aku ingin menikmati tubuh Cik Sasa. Aku ingin menyetubuhi Ima, Nia dan Cik Nina adik ipar Cik Ling.

TAMAT

GOYANGAN18PLUS