Wed. Mar 18th, 2026
MENIKMATI TUBUH FRIDA DARI SAHABAT ISTRIKU SENDIRI
MENIKMATI TUBUH FRIDA DARI SAHABAT ISTRIKU SENDIRI

MENIKMATI TUBUH FRIDA DARI SAHABAT ISTRIKU SENDIRI

MENIKMATI TUBUH FRIDA DARI SAHABAT ISTRIKU SENDIRI

MENIKMATI TUBUH FRIDA DARI SAHABAT ISTRIKU SENDIRI CERITA DEWASA – Istriku memang sengaja tidak membangunkan aku karena tadi malam aku pulang jam 4 pagi sampai rumah. Karena memang pekerjaanku sebagai auditor selalu dikejar target laporan, beruntung dalam timku ada satu wanita yang bebas dengan segala sesuatu, sebut saja Vanes dialah yang semalam memberikan layanan padaku untuk mengurangi keteganganku dalam bekerja, menurut dia bersetubuh dengan orang lain bukan hal tabu lagi buat dia karena dia tidak mempermasalahkan jika suaminya juga berkonsultasi dengan suami lain, yang penting dalam prinsip dia adalah tidak melihat langsung saat kejadian tersebut.

Aku yang masih enak dikasur masih teringat kejadian semalam aku tersenyum bahagia, sebetulnya saya bisa pulang awal jam 10 malam karena memang saat itu aku dan Vanes sedang horny hornynya jadi kita ber 3 ronde sampai akhirnya pagi menyambut kita.

“Walah…repot bener nih, pikiru. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan dia rumah tidak ada pembantu, karena istriku, indah, lebih suka membersihkan-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku. “Biar anak-anak ga manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku. Aku setuju saja.

Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepat tuntas. Setelah kucuka celanaku, aku sekarang hanya memakai kaos, dan tidak memakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukokok tongkolku.

Tampak dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa birahiku sudah memuncak tinggi. Aku pun teringat Firda, sahabat istriku. Kebetulan Firda berasal dari suku Tionghoa. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga utama kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya.

Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Firda. Tubuhnya mungil, setinggi Vanes, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.

Aku hanya bisa membayangkan seandainnya tubuh mulus Firda bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam can ciran bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Linda… seandainya aku bisa menyentuhmu… dan kamu mau ngocokin tongkolku… begitulah pikiranku saat itu.

Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Firda, terdengar suara langkah sepatu dan seorang memanggil-manggil istriku.

“Ndah…Indah….aku datang,” seru suara itu….

Ya ampun… itu suara Firda mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Firda memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya.

Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Firda udah nongol di ruang tengah, dan

“AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,” jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”

“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. panik. garam. Semua bercampur jadi satu.

Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan langsung, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.

“Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.

“Udah sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton BF sendirian, lagi ngapain sih ?” ucapnya sambil duduk di kursi di depanku.

“Yee…namanya juga lagi horny… ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi berangkat ke sekolah. Ya udah, self service,” sahutku.

“Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”

“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,” kilahku.

“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Firda beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.

Buru-buru aku mencegahnya. “Lin, ntar dulu lah…,” pintaku.

“Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,” sahutnya.

“Bentar deh Fir. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,” aku berusaha merayunya.

“Gila kamu ya!!!” Linda memprotes sambil melorot. “Kamu jangan macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku melakukan itu,” sergahnya. “fir,” sahutku tenang. “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.” “Gimana?”

Firda tidak menjawab. Tatapannya tajam.

Sejurus kemudian…

Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya : Klik Disini !
DOKTER MONTOK YANG BODYNYA ADUHAI

“Ok, Fir. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, tolong?” aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.

“Hm…baik deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,” katanya. “Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani minta tolong begitu ke aku?”

“Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku? Trus, aku lagi colai sambil liat BF… Iha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.

“Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”

“Gak usah, disini aja,” sahutku.

Perlahan, dibukanya bajunya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH seksi berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH merah itu.

Setelah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Namun akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang membungkusnya.

Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan. Tidak ada cacat, tidak ada noda. Sengkangnya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan Bhnya.

sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.

“Nih, aku u dah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”

Firda segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku mencegah.

“Duduknya jangan gitu dong…”

“Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?” protes Firdaus. “Nungging, gitu?”

“Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,” sahutku.

“Sori ye…emang gua apaan,” cibirnya.

“Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku.

“Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,” Linda masih saja protes dengan permintaanku.

“Mulai posisi yang kamu mau?” tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.

“Yak menyesap.” sahutku. “Aku lanjut ya colinya.”

Sambil menjaga tubuh Firda, aku terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau situasi langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Firda tidak menanggapi omonganku.

“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh….” aku terus menceracau. Firda memandang dan tersenyum.

“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……”

Firda terus saja memandang dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tongkolku yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.

“Pantatmu, Liiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tongkolku….oouuufff…..pasti muncrat aku….,”aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.

Firda masih tetap diam, dan tersenyum matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Firda juga mulai terangsang dengan aktivitasku.

Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai tidak nyaman.

Tangannya mulai meraba dada, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi Firda nampaknya ragu untuk melakukannya. Mungkin karena dia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain.

Kupejamkan mataku, agar Firda tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Firda meremas payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan.

Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali… tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, payudara Firda lebih bagus dan kencang dibandingkan Vanes. Kulihat tangan kiri Firda memilin-milin putingnya, dan tangan kegelapan ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.

“Sssshh….oofff….hhhhh……” Kudengar suara nya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mata dan melanjutkan kocokan pada tongkolku sambil menikmati rintihan-rintihan Firda.

Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan dirasakan.

Aku membuka mata dan terpekik. “Lin…kamu…,” leherku tercekat.

“Aku nggak yakin kamu menderita, Ndrew,” sahut Firda sambil membekukan tongkolku dengan tangan yang lembut.

Ya ampun…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai dan dikocok dengan tangan Firda yang putih mulus. Aku mendesis dan membekukan rambut Firda. Kemudian secara spontan Firda menjilat tongkolku yang sudah bener-bener sewarna kepiting rebus dan sekeras kayu. Dan… hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke mulut. Ya, tongkolku dihisap Firda. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.

Tak tahan dengan perlakuan sepiha Firda, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan Cdnya.

“Kamu mau ngapain, Ndrew?” Firda protes sambil menghentikan hisapannya. Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.

“Ohh..Lin…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?” pintaku.

“Terserah…yang penting kamu puas.”

Segera kuremas-remas pantat Firda yang montok. Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Firda terpampang dihadapanku. Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Firda merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.

“Achh… Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut Firda saat mengenyot tongkolku. Benar-benar menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku. Hingga akhirnya….

“fir….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg.

“Keluarin sayang…tongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”

“Aku…iiy…..iiyyyaaaaaaa….fir Ouuuuufffff…..argggggghhhhhhhh…..”

Tak dapat bertahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…

Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Firda. Tanganhalus Firda tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin meningkatkan habis cairan yang kumuntahkan

Ohhhh…….mimpiku menjadi kenyataan….. Obsesiku tercapai… pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan muka Firda.

“Lin…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kena spermaku?”

Firda menggeleng dengan pandangan sayu. Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.

“Kamu baru pertama kali kan, mainin tongkol orang selain suami kamu?”

“Iya, Ndrew. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin makan buah sama sayur ya?” tanya firdaus.

“Iya…kalo gak begitu, Indah mana mau nelen sperma aku.”

“Aihhh….” Firda terpekik. “Indah mau nelen sperma?”

Aku mengangguk. “Keapa Fir? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja rasanya,” sahutku.

“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Firda mengecap spermaku. Dengan radius yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnyajarinya smape bersih.Hmmm….akhirnya spermaku masuk ke dalam tubuhnya.

“Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”

“Mau lagi….?”

“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Ndrew?”

“Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Fir.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun lagi kan?”

“Dasar kamu ya….”

“Benerkamu gak mau spermaku? Ya udah kalo begitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.

“Mau sih… Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.

Perlahan kuhampiri Lida, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang.

Kulihat meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.

“Hmmm…Lin…meqi kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.

“Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng… Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…menari diujung klitorisnya. .” firda memiawik saat lidahku

“Ndrewwww…kamu gilaaa yaaa… “bisiknya samil menjambak rambutku.

Kumainkan lidahku dikelentitnya yang sudah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Firda yang semakin membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.

Hasilnya luar biasa. Firda makin meronta dan merintih. Jambakannya semakin kuat. Cairan birahinya semakin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak kusia-siakan.

Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma vagina Firda lain dengan aroma vagina istriku. Meski keduanya tidak berbau amis, namun ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Firda.

“Ayo….Ndrew…aku tak tahan….ochhhh….ahhhhh…..sshhhhh….ayolah sayang….cepat…..cepat….”

Aku paham, gerakan pantt Firda makin pembohong. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak, pikirku.

“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.

“Mas…..mas Andrew….”suara wanita didepan memanggil namaku.

Sontak kulepaskan jilatanku. Firda memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.

“Ndrew..kok kyaka suara Rika ya…”firda bertanya

“Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan. “Udah Fir, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…”

Segera Firda berjingkrak masuk ke kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Firda hampir keseluruhan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.

Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.

“Halo mas….’Pa kabar..?” sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.

“Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Rika menuju ruang tengah. Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?

Kaos ketat menempel di badannya, dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya menandakan bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku berjalan di belakangnya, tak kulihat garis celana dalam mebayang di spandexnya. Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku.

Kami berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel sudah selesai, jadi Rika nggak sempat melihat film apa yang tengah aku setel.

“Ini Iho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan.”

“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”

“Ah, biasa aja lageee..hehehe” Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Rika nggak berkunjung ke rumahku. Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Firda

Diam-diam, akupun juga ketagihan dapat menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya gak lebih dari 155cm.

Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan. Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan tongkolku. Pasti dia merintih-rintih menikmati hujaman tongkolku.

 

“Hei….bengong aja…..ngeliatin apa sih….” tegur Rika.

“Eh…..ah….anu….enggak. cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…”

Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…

“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.

Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku memelototin selangkangannya. Wah….

“Iya udah mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian, dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik ambil tertawa.

Aku cuma tersenyum.

“Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang.”

“Aku numpang pipis dulu ya.” Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.

“iya.”

Tepat saat Rika masuk kamar mandi, sambil berjingkrak Firda keluar dari kamarku.

Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan.

Ternyata CD Firda ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memiawnya. Astagaaa… untung Rika gak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan menyelidik? Entahlah.

“Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik.

Firda mengangguk, segera menyambar Cdnya dan…

“Ceklek….!”

Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Firda berdiri dihadapannya sambil memegang celana di dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Firda yang hanya memaki kaos, namun dibawahnya tidak memakai celana jeansnya.

Akupun terkejut, dan berdiri tegak. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.

“firda…? Kamu lagi ngapain?” Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.

“Eh…anu…ini lho…” kudengar Firda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.

“Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Rika. “Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”

“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Firda lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.

“Sini lihat.” Rika menghampiri Firda dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Firda, tanpa perlawanan dari Firda.

“Kok basah…?” Rika mengerutkan keningnya. “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?”

“udah deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Firda. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng.” Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang aku lakukan.

“Kamu tuh ya… udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan wajah merah padam.

“Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Firda ke polisi…silakan. Mau laporin ke Indah…terserah….”ucapku pasrah.

“Hmm…kalo aku laporin ke Indah…kasian dia. Nanti dia kaget. Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika meninmbang-nimbang apa yang ingin dilakukannya.

“Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya padaku.

“Apa syaratnya, Rik?”

“Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah.”

“Iya, apaan syaratnya?” Firda ikut bertanya

“Terusin apa yang kamu berdua lakuin tadi. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”

“APA?” aku dan Firda berteriak bebarengan. “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”

“Ya terserah kamu. Mau pilih mana…?” Rika mencibir dengan senyuman kemenangan.

Aku dan Firda saling berpandangan. Kuhampiri Firda, kubelai tangan dan rambutnya. Firda seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Rika. Segera saja kulumat bibir yang ranum dan nikmati pijatan pantatnya yang sekel. Firda segera membuka kaosnya.

Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Firda menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan tersisanya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Firda dan Rika.

Aku melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat dia menegangkan seperti tegangnya tongkolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku, seolah hendak memamerkan kejantananku.

“Ayo ndrew…cepetan deh… udah gak tahan sayang…” firda merintih. “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”

“Enak aja kamu bilang.” sergah Rika. “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”

Aku menatap mata Firda yang mulai sayu dan tersenyum. Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah ketelanjangbulanan kami berdua. Tak sabar, segera k usosor memiaw Firda yang sangat becek oleh lendir birahinya.

“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg… Andreeeeewwwwww….”firda menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas, mengikuti irama permainan lidahku.

Hmm…nikmat sekali. memiawnya berbau segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat. Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan semakin kuatnya goyangan pinggulnya.

“Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg.. akh…akh… akkkkkuu…”firda da terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya. ‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”

“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya, dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras. Baik itil maupun memiaw Firda sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang meleleh, hingga membasahi bagian pantat dan sofa.

Segera aktivitas diterima kuganti dengan jilatan lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Firda menegangkan, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegangkan. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.

“ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……” firda menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.

Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Firda. Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda semakin keras…dan akhirnya Firda menjawab seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.

“Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..” bisik Linda sambil gemetar.

“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk… kamu…”

Kulihat Firda tersenyum dengan wajah puas. Segera kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras dan kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan menyusui dua anak, payudara Firda sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan. Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu benar-benar masih keras dan mengacung meskipun pemiliknya tercinta menggapai orgasme.

“Ssst… Dreeewwww…iihhhh…geli….” Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Firda mulai mengejang lagi.

“Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda merintih. “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….sampai…kuhh…ooofffffhhhhhh hh……”

Tanpa aba-aba, segera kusorongkan tongkolku yang memang sudah mengisi seperti kayu ke memiaw Firda. Berkah…….

“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..oooooogggghhhh….”p antat Firda tersentak ke depan, seiring dengan menancapnya tongkolku di mekinya. Kutekan tongkolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana.

Terasa sekali memiaw Firda berkedut-kedut, meski tergolong super becek.

“Ayo, ndre…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau… keluarrrrr… laggiiiihhh…” firda merintih memohon. Segera kugocek tongkolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk… cplaakkkk ….” suar berkenalan tongkolku dengan memiaw Firda yang sudah basah kuyup nyaring terdengar. Tak lupa kulumat komentar yang ranum, dan Anda akan menggerayang memilin menikmati payudara dan putingnya.

Sesaat kemudian kulihat mata firda terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.

Firda menjerit keras dan seketika menjawab. Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di tongkolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek.

Makin kuat kocokan tongkolku di dalam memiaw Firda, makin kencang pula pelukannya. Nafas Firda tertahan, seolah tidka ingin kehilangan momen-momen indah menggapai puncak kenikmatan.

Karena denyutan memiaw Firda yang menyenangkan, ditambah rasa hangat karena uyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya yangmemandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang maat sangat.

“Ayo nDrew…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….” Firda memohon.

“Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?” tanyaku sambil terengah-engah.

“Tidak masalah sayang….aku aman kok….” sahut Firda. “Ayo sayang…masukkan spermamu ke dalam…ayo sayang…”

“aku merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Firda juga mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepat muncrat.

AAACCHHHHHHH…..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrroooo00000 ttttt..jrrrro ooooottttt…..tak kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke rahim Firda, sampai-sampai ia. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.Ah….ternyata tongkolku bisa menembus mulut rahimnya. Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.

Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Firda merintih lagi. “Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Ndrew…” ucap Firda. Setelah berhenti sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara tiba-tiba kucabu tongkolku.

“Bantalkkk….”

Kupandang memiaw Firda yang masih membengkak dan merah dengan lubang menganga. Firda segera mengubah posisi duduknya dan… ceeerrrr…… pejuhku meleleh. Segera saja jemari Firda meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa.

Akibatnya, telapak tangan Firda belepotan penuh dengan pejuhku yang telah bercampur lendir memiawnya. Dengan pejuh di telapak tangan penandatanganan, Firda menggunakan jari tangan kirinya, mengorek memiawny untuk membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.

“berani kamu telen lagi?” tantanganku.

“Idih…syapa takut….”firda balas menantangku. “nih liat kamu….”

Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…

“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Firda tampak puas menikmati pejuh ditangannya.

“Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda tertawa geli.

“Tuh…masih ada sisa ditangan. Mbelum bersih.” sahutku.

“Tenang, NDrew..sisanya buat…ini.” Sambil berkata begitu, Firda mengambil sebagian pejuhku dan mengusapnya diwajahnya.

“Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Firda sambil mengerling genit.

“Astagaaaa….kamu tuh, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.

“Kenapa…? Kaget ya?”

“diem-diem, muka alim…tapi kalo urusan birahi pembohong juga ya..”

“Iya iyalaaahhh.. gen kelinci, Ndrew… orang baik kenapa ditolak.”

“Tau gitu tadi aku semprot dimuka kamu aja ya..” sesalku

“Iya juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku.” Firdaus tersenyum

“Eh, Ndrew…ssstttt…coba liat tuh… jailin yuk…..”ajak Firda

Ya ampuuunnn…aku lupa bahwa aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa kami sadari tengah beraktivitas sendiri.

yaitu dengan memasukan kedua spiral ke rahim rika aktivitas seperti itu bisa disebut juga dengan masturbasi rika pun kulihat lihat rika pun merasakan kenikmatan yang didapat saat melakukan maturasi otot mukannya menegang tampak seperti nafsu yang telah lama terpendam tidak dilampiaskan.

TAMAT

GOYANGAN18PLUS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *