Thu. Jan 15th, 2026
MENIKMATI RAYUAN MANIS DARI ISTRIKU YANG BEGITU CANTIK
MENIKMATI RAYUAN MANIS DARI ISTRIKU YANG BEGITU CANTIK

MENIKMATI RAYUAN MANIS DARI ISTRIKU YANG BEGITU CANTIK

MENIKMATI RAYUAN MANIS DARI ISTRIKU YANG BEGITU CANTIK

MENIKMATI RAYUAN MANIS DARI ISTRIKU YANG BEGITU CANTIK CERITA DEWASA – Akhirnya kuselesaikan juga tugas dinasku selama empat bulan penuh di Australia. Aku pulang mem-bawa setumpuk laporan hasil kerja yang nantinya kuserahkan pada boss. Beruntung tadi malam aku masih sempat jalan jalan di pusat kota Perth dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti yang dipromosikan teman teman.

Kubeli beberapa sextoys dan puluhan dvd bokep sebagai cenderamata buat istri tercinta dan beberapa kolega. Harganya relatif lebih murah dibandingkan beli di dalam negeri. Pukul enam pagi waktu setempat aku terbang kembali ke negeri tercinta.

Setelah transit di beberapa bandara akhirnya jam empat sore aku mendarat dibandara A Yani. Setelah kudapatkan semua barang bawaanku, aku selekasnya berangkat keluar. Kulihat istriku berdiri di ujung koridor.

Mengenakan kaus ketat tanpa lengan yang dipadu blouse mini setengah paha membuat ia terlihat sangat cantik dan menggiurkan. Ada sebatang rokok yang tergamit di jarinya. Kami berpelukan sejenak melepaskan setumpuk kerinduan. Lalu kukecup bibirnya. Setelah itu aku bermaksud mengajaknya pulang.

“ Kenalin dulu, Ko! ini Edo….” Ujar istriku menunjuk pada seorang pria muda yang berdiri tepat disisinya, sambil menghisap dalam rokok Mentolnya yang ringan.

“Jay…” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Edo” balasnya.
“Jemput siapa nih, Do?”
“ Justru gue lagi nunggu jemputan gan…. Sejak tadi gue kontak kantor cabang tapi engga nyambung terus. Linenya lagi rusak kali “

“Di mana sih tujuan elu?”
Dia menyebut sebuah kantor di jalan Gajah Mada.
“Kebetulan itu searah dengan kami…. Mau ikut?” aku menawarkan diri.

Edo setuju lalu kami berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan selama yang memakan waktu kurang lebih duapuluhan menit kami saling ngobrol saling mengakrabkan diri. Ia ternyata dari Indonesia Timur. Seorang manajer di sebuah perusahaan pembiayaan yang berpusat di kotaku ini.

Meski warna kulitnya hitam keling namun terlihat wajahnya sangat ramah dan bersahabat. Ia tidak ganteng tapi cukup menarik. Edo bilang kalau dua tiga tahun sekali ia harus terbang kekantor pusat untuk memberi laporan hasil pekerjaannya dikantor cabang di NTT sana.

Kuturunkan dirinya tepat di depan gedung yang ditujunya. Dan sebelum berpisah kami sempat bertukar nomor hape. Kemudian aku meneruskan perjalanan ke rumah.
“Kayaknya sekarang kamu banyak berubah deh Say….” Ujarku.
“Maksud Koko?” tanyanya sambil mengerinyitkan dahi.

Lalu aku sampaikan padanya kalau dulunya istriku tidak suka mengenakan pakaian yang seksi di tempat umum kecuali di acara pesta. Dulu ia juga bukan pecandu rokok. Dan dulu dia kurang diterima dengan orang asing tapi tadi kayaknya dia begitu cepat akrab dengan Edo seperti sudah kenal bertahun-tahun saja.

“ahh…Koko terlalu sensi saja…. Tapi bolehkan kalau aku sedikit mengubah gaya?” tanyanya sambil mengeluarkan asap rokoknya yang segera terhisap keluar lewat celah jendela mobil yang sedikit terbuka.
“Iya engga apa apa toh, Say! Aku malah tambah suka koq! Kamu jadi terlihat semakin seksi dan menggemaskan aja cerita sekarang! Oh ya…. Ayo dong petualanganmu selama kutinggal!”

Kemudian dengan polos Nana menceritakan semuanya. Bagaimana ia bekerja disebuah ruang karaoke, lalu pengalaman bercinta dengan Mark, lalu pengalaman bertiga bersama Mark dan istrinya. Dan beberapa petualangan lain. Saat menyimak pengalaman istriku bukannya aku menjadi cemburu malahan aku menjadi begitu horny.

Sudah tidak waraskah diriku???.
Begitu sampai di rumah, aku selekasnya menarik masuk Nana ke dalam kamar. Saat itu aku benar-benar sedang kasmaran. Kudekap dirinya. Menciumi ciuman dan sepanjang lekuk tubuhnya. Satu persatu kupereteli pembalut ditubunya hingga ia telanjang bulat.

Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya : Klik Disini !
KEPONAKAN BERNAFSU BIRAHI

Kubalikkan tubuhnya. Kulingkarkan tangan di pinggangnya lalu kuciumi punggungnya. Ia bersedia mengajakku berbaring diranjang. Kuusap usap pipinya , dagunya lalu kuraba lekuk payudaranya yang sangat montok dan kencang. Nana meraih bajuku kemudian melepasinya.

Ia mulai menciumi dadaku yang sedikit ditumbuhi bulu. Kami memasarkanan di atas ranjang….. saling menyentuh, menjilati, dan menghisap. Aku mencapai diatas tubuhnya lalu menyurukkan muka tepat di selangkangannya. Kuamati vaginanya telah basah memerah dan menganga lebar penuh birahi.

Kujulurkan lidah ke dalam, menggerakannya berkeliaran, dan menggetarkan dinding dinding vaginanya. Saat kugelitikkan lidahku Nana melengkungkan punggung penuh rasa nikmat dan kulakukan terus menerus sampai lendir birahinya membanjir keluar.

Kutindih tubuhnya sambil melesakkan batang kemaluan yang sudah sangat tegang ke dalam liang syurgawinya. Kugerakkan pinggul naik turun dengan sangat cepat seperti sedang kesetanan saking ka ngennya diriku sendiri. Aku terus memompa seperti gerakan piston utama yang lama semakin cepat.

Nana mencapai puncaknya sambil mengangkat pinggulnya keatas. Ia dekap erat erat diriku seolah olah sangat takut kehilangan. Selanjutnya ia dekatkan mulutnya ke batang kemaluanku. Ia keluar dan memperkenalkannya dengan sangat gemas. Ia juga menghisapnya dengan rakus.

Sebelum aku mencapai klimaks, kutarik tubuhnya dan menempatinya diatasku. Ia mengggoyangkan pantatnya maju mundur seperti sedang menggilas pakaian. Saat itu ia tanpa sadar mempertahankan posisinya kedepan sehingga saya dapat membenamkan mukaku ke dalam bagian payudaranya dan dengan bebas dapat menghisap putingnya.

Istriku terus bergerak. Aku juga mengehentak hentakan pinggul dari bawah. Sangat liarrrrr….. sampai tubuh kami bergetar dan bersama sama memancarkan cairan orgasme.

Kami beristirahat sejenak sambil ngobrol sambil merokok. Kuminta istriku bercerita lagi tentang petua langan asmaranya dengan pria pria lain. Setidaknya ada enam orang lelaki yang pernah berkumpul di sini. Wuih! Ternyata istriku menjadi pecandu seks juga sekarang.

Hanya dalam waktu empat bulan saja. Dan kembali aku menjadi sangat terangsang saat mendengarkannya. Penisku yang semula loyo terus menerus mulai menengang dan mengental. Kami saling mendekatkan bibir, berpagutan, saling meraba dengan tingkat perangsangan lembut.

Kugelitik payudaranya dan menghisap putingnya. Aku terus meremas dan merangsang buahdadanya sampai putingnya berdiri tegak. Lalu beralih ke selakngannya. Kulumat dan kucumbu bagian tubuhnya yang sangat kurindukan siang malam selama empat bulan. Bulu bulu kemaluannya yang tumbuh lebat masih terawat dengan baik.

Aroma khas vaginanya juga masih menjadi bau yang menyakan nafsu birahiku. Liangnya sudah merekah bagai kelopak bunga tampak becek dan sangat licin karena lendir cintanya yang mengalir deras keluar. Kukitari bibir liang itu beberapa saat sebelum ku gelitiki klitorisnya dengan ujung lidah.

“ Ooooh! Ayolah, Koooo! “ katanya penuh tuntutan.
Kutarik tubuhnya membuatnya membelakangiku. Kubenamkan penisku dari belakang. Zakarku menampar nepuk pantatnya setiap kali aku mengepalkan vaginanya.

Kunikmati doronganan dinding vaginanya yang membuat tusukanku bertambah nikmat ribuan kali. Nana terus mendesah. Setiap kali ia mendesah lebih keras, aku mendorong penisku lebih dalam. Aku mengakhiri perjalanan birahinya dengan sebuah desakan yang kuat dan sedalam dalamnya.

“Aaaaaagggggggcc…!” Nana memekik penuh kepuasan.
Kutarik tubuhnya ketepi kasur. Menelentangkan disana. Lalu kunaikkan kakinya keatas bahuku. Dalam posisi berdiri kumauki vaginanya kembali. Nana menggoyangkan pinggulnya secara menandai setiap kali aku mendorong batang kemaluanku.

Semakin lama goyangannya semakin menghentak hen-tak. Liang senggamanya memang luar biasa nikmatnya sehingga saya ingin menikmatinya semalaman. Namun karena sudah sangat terangsang akhirnya kami sama sama menjerit penuh ketegangan disertai pemacarnya lendir orgasme kami dalam waktu yang hampir bersamaan.

Dua hari kemudian…..Siang itu Nana menelpon saat aku sedang menyelesaikan laporan di kantor. Tidak seperti biasanya. Pasti ada hal yang spesial menurutku. Ternyata memang benar adanya.
“ Ko….. tadi Edo kontak ke hapeku. Ia bilang kalau pesawatnya dibatalkan sampai besok sore… Dia juga bilang lagi kesulitan mencari hotel untuk sekedar transit………

Kalau…………”
“kita suruh ia nginap dirumah aja bagaimana, itu khan maksud elu?” potongku.
“ Iya…ya Ko….… maaf khan kalau dia bener bener ga dapat hotel?” jawab istriku yang tiba tiba menjadi sangat perhatian.
“ Kasihan dia apa maafmu, Na? Apa kamu pingin nyoba pisang hitam panjang nih?”
“Engga…engga! Masa Koko berpikir begitu sih?……Gimana Ko, bolehkah engga Edo kita suruh nginap dirumah?” kata istriku terus membujuk.

Akhirnya aku menyerah juga.
“ Ya bolehlah kalau kamu memang menyukainya”
“ Kamu memang suami yang luar biasa Kooo……! Trim ya….. I love you! Cup! Cup!Cup!”
Lalu telepon diputus. Saat itu jam satu lewat duapuluh menitan. Akupun sibuk meneruskan pekerja anku.

Sekitar jam empat tiba-tiba aku pingin nelpon ponsel istriku sekedar menyapanya. Tapi sedang tidak diaktifkan. Kucoba beberapa kali namun tetap tidak bisa. Lalu kucoba menghubungi kantornya . Kebetulan saya sudah mengenal operator yang bertugas saat itu.

“Halo Shanti! Nana ada?”
“Engga tuh Mas Jay.Hari ini doi cuman pacaran lalu berpamitan mau jenguk keluarga yang sakit”
Hah? Keluarga sakit? Apa lagi ini??? Aneh…….!
“apa engga jalan bareng toh Misa?” Tanya Shanti sedikit ragu.

“ Engga sih Shan… gue lagi sibuk dikantor…..oke gitu dulu, Shan……….. terima kasih yaaaa”
Lalu kuputuskan kontak.
Sialan! Bener bener istriku jadi binal! Pasti ia telah bersama Edo seharian ini. Atau mungkin sejak kemarin.
“Dasarrrr wanita gatel!” Omelku dalam hati.

Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat aku terangsnag sendiri sehingga kucoba mempercepat pekerjaanku yang masih setumpuk. Namun baru jam setengah tujuh malam aku bisa merampungkannya.. Secepat kilat kupacu mobilku menuju rumah. Dibenakku hanya ada keiginan untuk melaku-kan three some dengan istriku dan Edo Hari sudah mulai gelap saat aku sampai.

Teras rumahku sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang menyala. Nana keluar menyambutku. Ia menyapaku dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum kutarik masuk ke dalam tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang menghiasi renda renda di bagian dada.

Putingsusunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah kutebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh didahinya seba-gaimana seseorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.

“Habis kerjaaa keras nih!” sindirku.
“ AH! Koko bisa aja” sahutnya dengan pipi yang tersipu.
“Edo dimana, Na?”
“ Kayaknya lagi mandi….”

Kutarik tangannya menuju sofa yang ada di ruangan tengah. Mengajaknya berciuman sebentar sebelum kulanjutkan bertanya,

“lelaki itu hebat, Na?”.
Ia tidak menjawab hanya membeliakkan mata kearahku.
“Berapa kali kamu dapat klimaks? Enam delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya.

Kembali kulumat tendangannya dan mulai menggerayangi bagian dada. Nana menolak dengan halus karena ia ingin aku mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Saya setuju. Selesai mandi aku keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja.

Edo dan istriku sudah ada dimeja makan menungguku. Kemudian kami bersantap malam sambil berbincang bincang mengenai banyak topik. Setelah selesai Nana memunguti piring piring kotor untuk dibawanya kedap air sementara aku dan Edo melangkah ke ruang tengah. Aku duduk di sofa panjang sedang ia duduk disofa single diseberangku.

“Bagaimana istriku, Do?” tanyaku dengan nada sengaja kupelankan agar tidak terdengar oleh Nana yang masih sibuk mencuci piring.
“Luar biasa, Jay! Elu bener bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia…. “

“Berapa kali kalian melakukannya?”
“Mungkin lima atau enam kali aku engga ingat… soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat kenyal dan pulennnn…. Belum lagi servicenya yang benar-benar luar biasaaa…. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

” Sialan kalian! Lagi ngomongin gue yaaa!” omel Nana yang tiba-tiba berdiri di sisiku. Ia lalu kutarik duduk di sebelahku.
“Edo bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna dirimu, Say….” Ujarku.
“ Biasa lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan mauttt”
“ Bukan begitu Na….tapi emang kamu istri yang sangat sempurna…..” lanjutku seraya menempel di bibir kebibirnya.

Istriku kembali menolakku dengan halus karena ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton dvd porno yang kubeli di Perth tempo hari. Aku kembali setuju. Dan dengan santai kami nikmati adegan penggugah nafsu itu berjam-jam. Belum sampai selesai film yang kami tonton ketika kulihat Nana mulai tidak tenang duduknya.

Berkali kali ia menggeser geser dan mengubah posisi kakinya sepertinya ada sesuatu yang aneh dipangkal pahanya. Kuciumi mencerminkan sambil merabakan tangan pada cetakan buahdadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istriku tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasanku.

Putingnya menjadi semakin padat dan semakin menyembul. Dengan sangat mudah kutarik lepas tali pengi-kat kimononya kemudian menyibakkan ujung titik kekanan kekiri. Kutatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum kujilat jilat serta kuhisapi. Ketika kuselipkan tangan pada pangkal pahanya kutemukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

“Uuuhhhhfsss……….” Desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.
Nana meraih kepalaku lalu mengiringnya kearah selakangannya. Akupun menurut. Sembari menggerakkan kuciumi setiap bagian tubuhnya yang kulewati. Perutnya. Pusarnya.

Bulu bulu kemaluannya yang lebat. Dan bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Kutelusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian kujulurkan lidah menggelitik kelentitnya yang sangat menonjol.
Istriku menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap aku melakukannya.

Edo bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekarnya terlihat sudah sangat tegang. Mendongak minta jatah. Ia mengajak istriku berciuman. Tanganya mulai meremas remas buahdada istriku sementara tangan istriku telah memegang batang kemaluannya.

Kujulurkan lidah dan kubenamkan berulang kali pada liang yang tanpa ujung itu. Kutusuk tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Nana menjadi semakin keras terdengar. Edo bangkit menyodorkan kemaluannya ke mulut Nana.

Batang sepanjang duapuluhan centi itu disambut istriku dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istriku mulai mengulumnya. Kusibakkan kimono mandiku dan memelorotkan celana dalamku. Kugenggam dan kuurur urut otot sepanjang limabelas centi yang meyembul diantara pahaku sambil menyaksikan istriku sedang melu-mat penis hitam Edo yang panjang itu penuh nafsu.

Aku menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istriku. Kuangkat kedua kakinya kemudian kudorong batang kemaluanku kedepan mem-benamkannya dengan penuh perasaan ke dalam liang syahwatnya.Sambil menikmati setiap identikasi lem tetapi dengan dinding dinding dalam vaginanya.

Inci demi inci. Sekonyong konyong aku disergap berjuta juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penisku lalu menjalar ke batangnya lalu menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Selanjutnya kucoba mengeksplorasi kenikmatan yang lebih besar dengan tak henti-hentinya menggali….. menggali….. dan menggali liang itu lebih dalam lagi.

Sementara itu istriku masih asyik mengulum pisang hitam yang ada dalam genggaman tangan. Nana terus menerus mengerang nikmat sambil bergoyang maju mundur diombang ambingkan gelombang birahi yang kuciptakan. Kemudian ia mengejang.

Seluruh otot ditubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjangggg pada saat badai orgasme tiba-tiba meledak dan menyambar dirinya!. Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang ke-maluanku yang masih terbenam di sana. Kami mengubah posisi.

Aku duduk disofa sedangkan Nana menyurukkan mukanya keselakanganku, ia menghisapi dengan lahap batang kemaluanku yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Edo giliran yang menyetubuhi istriku dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan keluar dengan sangat cepat.

Terdengar suara “plok!plok!plok!” setiap kali zakar Edo menampar nepuk pantat istriku.
“Oooghttt….oooghffff….” desah istriku tanpa melepaskan batang kemaluanku dari mulut. Dan setiap kali istriku mendesah lebih keras Edo melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi.

Edo tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik diri lalu menelentangkan tubuh istriku di atas sofa. Ia membuka kedua kaki istriku lalu menaikkannya keatas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menu-ju ke puncak tertinggi.

Istriku tampak begitu menikmati setiap suamian kemaluan Edo. Ia menyambutnya dengan goyangan pinggulnya yang menghentak hentakan. Denyutan nikmat yang diciptakan Nana membuat Edo semakin bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap.

Terdengar napas keduanya terengah-engah saling mengerang dan melenguh penuh kenikmatan. Beberapa menit kemudian istriku kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat tubuh Edo. Sementara itu Edo masih memanaskan dengan sangat cepat berusaha mencapai klimaks.

Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Edo mencabut penisnya kemudian mendekati wajah istriku. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan kebibir Nana.

Setelah reda, istriku kembali menjilati ujung kemaluan Edo sampai bersih. Aku sejak tadi hanya bisa berdiri menyaksikan pergulatan keduanya sambil mengurutkan batang kema luanku sendiri. Melihat celah vagina Nana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya membuat aku sangat terangsang dan ingin memasukinya.

Selanjutnya ku tancapkan dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa agak longgar namun tetap saja mampu memberikan rasa kenikmatan yang luar biasa. Kulumat liang itu dengan sangat bergairah. Nana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya bertambah nikmat ribuan kali.

Aku semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang kulakukan rupanya menyebabkan menyalanya kem bali gairah istriku. Sehingga kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling mengge sek dan meraba. Sekian menit kemudian kupercepat gerakan pinggulku saat terasa desakan sangat kuat di ujung penisku.

Istriku memekik dengan keras ketika ia lebih dulu sampai di puncak. Nyaris berbarengan kurasakan ujung penisku bergetar hebat. Sehingga kucoba menekan pinggul lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluanku menggelepar gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak diantara himpitan liang vagina Nana. Saking banyaknya hingga meluber keluar dan meleleh di atas sofa.

Setelah membersihkan diri, kami melanjutkan permainan di dalam kamar. Secara bergantian aku dan Edo menggarap vagina Nana. Malam itu belasan kali istriku mencapai klimaks disertai panjang penuh kepuasan.

TAMAT

GOYANGAN18PLUS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *