Thu. Jan 15th, 2026
ADIK MAMAKU MENGAJARIKU BERSETUBUH
ADIK MAMAKU MENGAJARIKU BERSETUBUH

ADIK MAMAKU MENGAJARIKU BERSETUBUH

ADIK MAMAKU MENGAJARIKU BERSETUBUH

ADIK MAMAKU MENGAJARIKU BERSETUBUH CERITA SEX – ketika itu aku baru berumur 12 tahun, sebagai anak tunggal. Sewaktu orang tuaku sedang pergi keluar negeri. Teman baik ibuku, Tante Ina, yang berumur 26 tahun, diminta oleh orang tuaku untuk tinggal dirumah menjagaiku. Karena suaminya harus keluar kota, Tante Ina akan menginap dirumahku sendirian. Tante Ina badannya agak tinggi, rambutnya dipotong pendek sebahu, kulitnya putih bersih, wajahnya ayu, pakain dan gayanya seksi. Tentu saja saya sangat setuju sekali untuk ditemani oleh Tante Ina.ceritasex

Biasanya, setiap ada kesempatan aku suka memainkan kemaluanku sendirian. Tapi belum pernah sampai keluar, waktu itu aku masih belum mengerti apa2, hanya karena rasanya enak. Membawa kesempatan rumah lagi kosong dan Tante Ina juga belum datang. Setelah pulang sekolah, aku kekamar tidurku sendirian me-mijit2 kemaluanku sambil menghayalkan tubuh Tante Ina yang seksi. Kubayangkan seperti yang pernah kulihat di majalah porno dari teman2 ku disekolah. Selagi asyiknya bermain sendirian tanpa ku sadari Tante Ina sudah tiba dirumahku dan tiba2 membuka pintu kamar ku yang lupa ku kunci.

Dia sedikit tercengang saat melihat ku berbaring di atas ranjang telanjang bulat, sambil memegangi kemaluan ku yang berdiri. Aduh malunya setengah mati, ketangkap basah lagi mainin burung. Segera ku tutupi kemaluanku dengan bantal, wajahku putih pucat. Melihat ketakutanku, Tante Ina hanya tersenyum dan berkata “Eh, kamu sudah pulang sekolah JD, Tante juga baru saja datang”.

Aku tidak berani menjawabnya. “Tidak usah takut dan malu sama Tante, itu hal biasa untuk anak2 mainin burungnya sendiri” katanya. Aku tetap tidak berani berkutik dari tempat tidur karena sangat malu. Tante Ina lalu menambahkan, “Kamu terusin saja mainnya, Tante hanya mau membersihkan kamar kamu saja, kok”.

“Tidak apa2kan kalau Tante ikut melihat permainanmu”, sambil melirik menggoda, dia kembali berkata “Kalau kamu mau, Tante bisa tulungin kamu, Tante mengerti kok dengan permainanmu JD”, sambil mendekatiku. “Tapi kamu tidak boleh bilang siapa2 yah, ini akan menjadi rahasia kita berdua saja”. Aku tetap tidak dapat menjawab apa2, hanya mengangguk kecil walaupun aku tidak begitu mengerti apa maksudnya.

Tante Ina pergi ke kamar mandi mengambil Baby Oil dan segera kembali ke kamarku. Lalu dia berlutut di hadapanku. Bantalku diangkat per-lahan2, dan saking takutnya kemaluanku segera mengecil dan segera ku tutupi dengan kedua telapak tangan ku. “Kemari dong, terima kasih Tante lihat permainanmu, Tante janji akan ber-hati2 deh”, katanya sambil membujukku.

Tangan ku terbuka dan mata Tante Ina mulai turun ke bawah kearah selangkanganku dan memperhatikan kemaluan ku yang mengecil dengan teliti. Dengan per-lahan2 dia memegang kemaluanku dengan kedua jempolnya dan menuruni kepalanya, dengan tangan yang satu lagi dia meneteskan Baby Oil itu dikelapa kemaluanku, senyumnya tidak pernah melepaskan wajahnya yang cantik. “Tante pakein ini supaya rada licin, kamu pasti suka deh” katanya sambil menambahkan ke sebelah matanya.

Malunya setengah mati, belum ada orang yang pernah melihat kemaluanku, apa lagi yang memegangnya. Hatiku berdebar kencang dan wajahku merah karena malu. Tapi sentuhan tangan terasa halus dan hangat. “Jangan takut JD, kamu rebahan saja”, sambil membujukku. Setelah sedikit tenang mendengar suara yang halus dan memastikan, saya mulai dapat menikmati elusan tangan yang lembut.

Tangannya sangat mahir memainkan kemaluanku, setiap sentuhannya membuat kemaluanku bergetar dengan kenikmatan dan jauh lebih nikmat dari sentuhan yang dirasakan sendiri. “Lihat itu sudah mulai membesar kembali”, kemudian Tante Ina melumuri Baby Oil itu keseluruh batang kemaluan ku yang mulai menegangkan dan kedua bijinya. Kemudian Tante Ina mulai mengocokin kemaluanku digenggamannya per-lahan2 sambil membuka kedua pahaku dan mengusap lebar biji ku yang mulai panas membara.


Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya : Klik Disin
NGENTOT DENGAN MANTAN DAN ISTRI

Kemaluan ku terasa kencang sekali, berdiri tegak seenaknya dihadapan muka Tante Ina yang cantik. Perlahan Tante Ina mendekati mukanya kearah selangkangan ku, seperti sedang mempelajarinya. Terasa napasnya yang hangat berhembus dipaha dan dibijiku dengan halus. Aku hampir tidak bisa percaya, Tante Ina yang baru saja ku khayaalkan, sekarang sedang berjongkok di antara selangkanganku.

Setelah kira2 lima menit kemudian, aku tidak dapat menahan rasa geli dari godaan jari2 tangan. Pinggulku tidak bisa berdiam tenang saja diranjang dan mulai mengikuti setiap irama kocokan tangan Tante Ina yang licin dan berminyak. Belum pernah aku merasa seperti itu, semua kenikmatan duniawi ini seperti berpusat tepat di-tengah2 selangkanganku.

Mendadak Tante Ina kembali berkata ” Ini pasti kamu sudah hampir keluar, dari nanti kotorin kasur Tante hisap saja yah”. Saya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dengan tiba2 Tante Ina mengeluarkan lidahnya dan menjilat kepala kemaluanku lalu menyusupinya perlahan ke dalam mulut.

Hampir saja aku melompat dari atas kasur. Karena bingung dan kaget, aku tidak tahu harus mengambil apa, kecuali menekan pantatku keras ke dalam ranjang. Tangannya segera disusupkan ke bawah pinggulku dan mengangkatnya dengan perlahan dari atas kasur. Kemaluanku terangkat tinggi seperti ingin diperagakan dihadapan mukanya. Kembali lidahnya menjilati kepala kemaluanku dengan halus, sambil me-nyedot ke dalam mulut.

Bibirnya yang merah merekah tampak sangat seksi menutupi seluruh kemaluanku. Mulut dan lidahnya terasa sangat hangat dan basah. Lidahnya dipermainkan dengan sangat mahir. Matanya tetap menatap mataku seperti untuk meyakinkanku. Tangannya kembali menggenggam kedua bijiku. Kepalanya tampak turun naik disepanjang kemaluanku, aku rasa geli setengah mati. Ini jauh lebih nikmat daripada memakai tangan.

Sekali2 Tante Ina juga menghisap kedua bijiku bergantian dengan gigitan2 kecil. Dan perlahan turun kebawah menjilat lubang pantatku dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar dan hangat.

Aku hanya dapat memegang erat kebantalku, sambil mencoba menahan rintihanku. Kudekap mukaku dengan bantal, setiap sedotan terasa seperti yang aku hendak menjerit. Napasku tidak dapat diatur lagi, pinggulku menegangkan, kepalaku mulai pening dari kenikmatan yang terkonsentrasi tepat di antara selangkanganku. Mendadak merasakan kemaluanku seperti akan meledak.

Karena rasa takut dan panik, kutarik pinggulku ke belakang. Dengan seketika, kemaluanku seperti hidup sendiri, berdenyut dan menyemprotkan cairan putih yang lengket dan hangat kemuka dan kerambut Tante Ina. Seluruh badanku bergetar dari kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya. Aku tidak sanggup menahan kejadian ini. Saya merasa telah melakukan kesalahan yang sangat besar.

Dengan nafas yang ter-tengah2, aku meminta maaf kepada Tante Ina atas kejadian tersebut dan tidak berani untuk memperlihatkan wajahnya. Tetapi Tante Ina hanya tersenyum lebar, dan berkata “Tidak apa2 kok, ini memang harus begini”, kembali dia menjilati cairan lengket itu yang mulai meleleh dari ujung bibirnya dan kembali menjilati semua sisa cairan itu dari batang ku sehingga bersih. “Tante suka kok, rasanya sedap”, tambahnya.

Dengan penuh pengertian Tante Ina menjelaskan bahwa cairan itu adalah udara mani dan wajar untuk dikeluarkan sekali2. Kemudian dengan penuh kehalusan dia membersihkanku dengan handuk kecil basah dan menciumku dengan lembut dikeningku.

 

Setelah semuanya mulai mereda, dengan malu2 saya bertanya “Apakah perempuan juga melakukan hal seperti ini?”. Tante Ina menjawab “Yah, kadang2 kita orang perempuan juga melakukan itu, tapi caranya agak berbeda”. Dan Tante Ina berkata kalau aku mau, dia dapat menunjukkannya. Tentu saja aku bilang aku ingin menyaksikannya.

Jari2 tangan Tante Ina yang lentik dengan perlahan mulai membuka kancing2 bajunya, memperagakan tubuhnya yang berwarna putih. Waktu kutangnya terbuka buah dada melejit keluar dan tampak besar membusung dibandingkan dengan lapisan dalam yang mengecil ramping. Kedua buah dadanya bergelayutan dan bergoyang dengan indah.

Dengan halus Tante Ina memegang kedua tangannya dan meletakannya diatas buah dada. Rasanya empuk, kejal dan halus sekali, ujungnya agak keras. Putingnya warna coklat tua dan agak besar. Tante Ina memintaku untuk menyentuhnya. Karena belum ada pengalaman apa2, aku pencet2 saja dengan kasar. Tante Ina kembali tersenyum dan mengajariku untuk mengelusnya per-lahan2.

Putingnya agak sensitif, jadi kita harus lebih lembut disana, katanya. Tanganku mulai me-raba2 tubuh Tante Ina yang putih bersih itu. Kulitnya terasa sangat halus dan panas membara dibawah telapak tangan. Napasnya berburu setiap kusentuh bagian yang tertentu. Aku mulai mempelajari tempat2 yang disukainya.

Tidak lama kemudian Tante Ina memintaku untuk menciumi tubuhnya. Ketika aku mulai menghisap dan menjilat kedua buah dadanya, putingnya terasa memenuhi mulutku. Napasnya semakin men-deru2, membuat buah dadanya turun naik bergoyang dengan irama.

Lidahku mulai menjilati seluruh buah dadanya sampai keduanya berkilat dengan air liurku Mukanya tampak gemilang dengan penuh gairah. Bibirnya yang merah merekah mual seperti sedang menahan sakit. Roknya yang seksi dan ketat mulai tersibak dan kedua lututnya mulai melebar perlahan. Pahanya yang putih seperti susu mulai terbuka menantang dengan gairah dihadapanku.

Tante Ina tak henti-hentinya meng-elus2 dan memeluki tubuhku yang masih telanjang dengan kencang. Tangannya menuntun kepalaku kebawah kearah perut. Semakin kebawah menciumku, semakin terbuka kedua pahanya, roknya tergulung keatas. Aku mulai dapat melihat pangkal paha di atasnya dan terlihat sedikit bulu yang hitam halus mengintip dari celah celana di dalamnya. Mataku tidak bisa melepaskan pemandangan yang sangat indah itu.

Kemudian Tante Ina berdiri tegak dihadapanku dengan perlahan Tante Ina mulai membuka kancing roknya satu persatu dan membiarkan roknya terjatuh dilantai. Tante Ina berdiri dihadapanku seperti seorang putri khayalan dengan hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih, kecil, tipis dan seksi.

Tangannya ditaruh dipingulnya yang putih dan tampak serasi dengan kedua buah dada yang diperagakannya dihadapanku. Celananya yang hanya sedikit tertutup dengan celana dalam seksi itu bercuat menungging ke belakang. Tidak kusangka seorang wanita bisa terlihat begitu indah dan menggiurkan. Aku sangat terpesona memandang wajah dan keindahan tubuhnya yang bersinar dan penuh gairah.

Tante Ina menerangkan bagian tubuh di bawahnya juga harus dimainkan. Sambil merebahkan dirinya diranjangku, Tante Ina memintaku untuk menikmati bagiannya yang terlarang. Aku mulai me-raba2 pahanya yang putih dan celana dalamnya yang agak demak dan bernoda. Pertama2 dirasakan agak bergemetar, basah dari keringat dingin, tapi melihat Tante Ina sungguh2 menikmati semua perbuatanku dan matanya juga mulai menutup sayu, nafasnya semakin mengencang.

Aku semakin berani dan lancang merabanya. Kadang2 jariku kususupkan ke dalam celana dalamnya menyentuh bulunya yang lembut. Celana dalamnya semakin membasah, dibawah noda celana dalamnya semakin membesar. Pingulnya terangkat tinggi dari atas kematian. Kedua pahanya semakin melebar dan kemaluannya tercetak jelas dari celana dalam nya yang sangat tipis itu.

Setelah beberapa lama, Tante Ina dengan merintih memintaku untuk membuka celana dalamnya. Pinggulnya dinaikkan sedikit supaya aku bisa menurunkan celana dalamnya ke bawah.

Tante Ina berbaring di atas kasur tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Disitu untuk pertama kali saya dapat menyaksikan kemaluan seorang wanita dari jarak yang dekat dan bukan hanya dari majalah. Bulu2 diatas kemaluannya tampak hitam lembut, tumbuh dengan halus dan rapi dicukur, sekitar kemaluannya telah dicukur hingga bersih membuat lekuk kemaluannya tampak dari depa

Tante Ina membuka selangkangannya dengan lebar dan menyodorkan kewanitaannya sambil berbaring tanpa sedikit rasa malu. Sembari bangkit duduk ditepi ranjang, Tante Ina memintaku untuk berjongkok di antara kedua pahanya untuk memperhatikan vaginanya dari jarak dekat. Dengan penuh gairah kedua menggali mengungkap bibir kemaluannya yang rada tebal dan ke-hitam2an dan memperagakan berbaring lubang vaginanya yang basah dan berwarna merah muda.

Dengan nada yang ramah, Tante Ina menggunakan jari tangannya sendiri dengan halus, menerangkan satu persatu seluruh bagian tubuh bawahnya. Tempat2 dan cara2nya untuk menyenangkan seorang wanita. Kemudian Tante Ina mulai menggunakan jari tangan ku untuk di-raba2kan ke bagian bawah tubuh. Rasanya sangat hangat, lengket dan basah. Klitorisnya semakin membesar ketika aku menyentuhnya.

Aroma dari vaginanya mulai memenuhi udara dikamarku, aromanya menyenangkan dan berbau bersih. Dari dalam lubang vaginanya per-lahan2 keluar cairan lengket berwarna putih dan kental dan mulai melumuri seluruh permukaan lubang vagina nya. Mengingat apa yang dia sudah lakukan dengan air maniku, saya kembali bertanya “Boleh ngga saya ciuman air mani Tante?” Tante Ina hanya mengangguk kecil dan tersenyum.

Perlahan aku mulai menjilati pahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Tante Ina yang merah dan lembut. Cairan nya mulai mengalir keluar dengan derasnya keselangkangannya. Lidahku mengumpulkan tetesan itu dan mengikuti aliran cairan itu sampai balik keasal lubangnya. Rasanya rada keasinan dengan baunya sangat khas, tidak seperti kata orang2, cairan Tante Ina sangat bersih dan tidak berbau amis.

Begitu pertama saya menonton alat kelamin Tante Ina, saya tahu yang saya dapat menjilatinya terus2an, karena saya sangat menyukai rasanya. Tante Ina tiba-tiba menjerit kecil ketika lidahku menyentuh klitorisnya. Aku tersentak takut karena mungkin aku telah membuatnya sakit. Tetapi Tante Ina kembali menjelaskan bahwa hal biasa jika seseorang mengerang waktu merasa enak.

Semakin lama, aku semakin berani untuk menjilat dan menghisap semua lubang vagina dan klitorisnya. Pinggulnya diangkat naik tinggi. Tangannya tak henti-hentinya mematahkan buah dadanya sendiri, cengkramannya semakin menguat. Napasnya sudah tidak beraturan lagi. Kepalanya terbanting kekanan dan kekiri.

Pinggul dan pahanya kadang2 mengejang kuat, berputar dengan liar. Kepalaku terkadang tergoncang keras oleh dorongan dari kedua pahanya. Tangannya mulai menjambak rambutku dan menekan kepalaku erat kearah selangkangannya. Dari bibir yang mungil itu keluar desah dan rintihan memanggil namaku, seperti irama ditelingaku. Keringatnya mulai keluar dari setiap pori2 tubuhnya membuat kulitnya tampak bergemilang di bawah cahaya lampu.

Matanya sudah tidak memandangku lagi, tapi tertutup rapat oleh bulu mata yang panjang dan lentik. Sembari merintih Tante Ina memintaku untuk me-nyodok2kan lidahku ke dalam lubang vaginanya dan mempercepat iramaku. Seluruh mukaku basah tertutup oleh cairan yang bergairah itu.

Kemudian Tante Ina memintaku untuk menyalakannya supaya dia juga dapat menghisap kemaluanku secara bersamaan. Setelah melumuri kedua buah payudara yang busung itu dengan Baby Oil, Tante Ina meng-gosok2kan dan menghimpit kemaluan ku yang sudah keras kembali ke antara buah payudara, dan menghisapinya secara bergantian. Kemudian Tante Ina memintaku untuk lebih berkonsentrasi di klitorisnya dan menyarankanku untuk memasukkan jariku ke lubang vaginanya. Dengan penuh gairah, aku pertama kali merasakan bahwa kelamin wanita itu dapat terasa begitu panas dan basah.

Otot vaginanya yang dirasakan terasa berdekup memijiti jari dirasakan perlahan. Bibir dan lubang vaginanya tampak merekah, berkilat dan semakin memerah. Klitorisnya bersinar dan membesar seperti ingin meledak. Setelah beberapa lama, Tante Ina memintaku untuk memasukkan satu jariku ke dalam lubang pantatnya yang ketat. Pada saat yang sama, Tante Ina juga masuki satu jalinan pula ke dalam lubang pantatku. Tangannya dipercepat mengocok kemaluan ku.

Pahanya mendekap kepalaku dengan keras. Pinggulnya mengejang keras. Terasa dilidahku urat2 sekitar dinding vaginanya berkontraksi keras ketika dia keluar. Aku menjerit keras ber-sama2 Tante Ina sambil memeluknya dengan erat, kami berdua keluar hampir bersamaan. Kali ini Tante Ina menghisap habis semua air maniku dan terus menghisap kemaluan ku sampai kering.

Setelah itu kita berbaring telanjang terengah-engah. Badannya yang berkeringat dan melemah, terasa sangat hangat memeluki tubuhku dari belakang, tangan tetap menghangat dan mengenggam kemaluanku yang mengecil. Aroma dari yang baru saja yang kami lakukan masih tetap memenuhi udara kamarku.

Wajahnya tampak gemilang bersinar menunjukkan kepuasan, senyumnya kembali menyempurnakan wajahnya yang terlihat lelah. Lalu kita jatuh tertidur berduaan dengan angin yang sejuk bertiup dari jendela yang terbuka. Setelah bangun tidur, kita mandi bersama. Waktu berpakaian Tante Ina menciumku dibibir dengan lembut dan berjanji yang nanti malam dia akan mengajarkan bagaimana caranya bila kejantananku masuki ke dalam kewanitaannya.

Sejak hari itu, selama satu minggu penuh, setiap malam aku tidur di kamar tamu bersama Tante Ina dan mendapat pelajaran yang baru setiap malam. Tetapi setelah kejadian itu, kami tidak pernah mendapat kesempatan kembali untuk melanjutkan hubungan kami. Hanya ada peristiwa sekali, saat orang tuaku mengadakan pesta dirumah,

Tante Ina datang bersama suaminya. Didapur, waktu tidak ada orang lain yang melihat, Tante Ina menciumku dipipi sambil meraba kemaluan ku, tersenyum dan berbisik “Jangan lupa dengan rahasia kita JD”. Dua bulan kemudian Tante Ina pindah ke kota lain bersama suaminya. Sampai hari ini aku tidak akan dapat melupakan satu minggu yang terbaik dalam sejarah hidupku.

Dan aku merasa sangat beruntung bisa mendapatkan seseorang yang dapat mengajariku bersetubuh dengan cara yang sangat sabar, sangat profesional dan semanis Tante Ina.

GOYANGAN18PLUS